|
Rasul Paulus menyatakan kepada jemaat di Efesus yang dikategorikan anak agar “taatilah orangtuamu di dalam Tuhan” (Ef 6:2) dan disamping itu ada yang wajib untuk dilakukan yaitu “Hormatilah ayahmu dan ibumu – ini adalah suatu perintah yang penting” (Ef 6:2), “supaya kamu berbahagia dan panjang umur dibumi: (Ef 6:3). Sikap hormat seorang anak terhadap ibunya perlu dinyatakan seperti yang diungkapkan di dalam kitab Amsal yaitu sebagai berikut: 1. Perhatikan didikan ibumu “dan jangan menyia-yiakan ajaran ibumu (Ams 1:8b). Jangan mengabaikan ajaran ibu karena ibu “membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada dilidahnya” (Ams 31:26). Pada umumnya ajaran ibu lebih mudah diterima dan dimengerti daripada ajaran ayah yang lebih tegas dan lebih keras yang dapat menimbulkan sakit hati dan tawar hati anak. Perlu pula disadari bahwa didikan adalah tanda kasih karena kita adalah anak. (baca Ib 12:5-8). 2. Hargailah ibumu “tetapi orang yang bebal menghina ibunya” (Ams 15:20b). Orang yang bebal adalah orang bodoh yang tidak takut akan Tuhan. Penulis Amsal menyatakan menghina ibunya (Kalam Hidup: suka melawan ibunya). Menghina ibunya berarti menganggap dirinya tinggi dan memandang ibunya rendah. Perlu disadari bahwa tanpa ibu kita tidak ada di dunia ini dan tidak terpelihara dengan baik karena “seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya” (1 Tes 2:7). Rasul Paulus menyatakan seperti pemimpin yang bekerja keras maka “supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka” (1 Tes 5:13). 3. Jadikan ibumu bersukacita “Anak yang bebal …… memedihkan hati ibunya” (Ams 17:25). Keluhan yang sering didengar adalah perkataannya memedihkan hati! Perkataan itu berbahaya, “Lidahpun adalah api” (Yak 3:6) yang dapat membakar dan menghancurkan. Maukah kita membuat hati ibu bersukacita? Penulis Amsal menyatakan “Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya” (Ams 15:23), “Hai anakku jika hatimu bijak hatiku juga bersukacita” (Ams 23:15). Kedua ayat ini menyatakan bahwa hati ibu akan bersukacita hanya dengan mendengar perkataan seorang anak yang berhikmat dan yang diucapkan tepat pada waktunya. Perkataan yang diikuti dengan perbuatan hikmat yang tepat dan benar akan memberikan lebih bersukacita. 4. Berbuat baik dan akrab dengan ibumu “Anak yang …. mengusir ibunya, memburukkan dan memalukan diri” (Ams 19:26). Anak durhaka sebagai julukan yang akan diterima bagi anak yang mengusir ibunya. Alkitab mencatat kisah anak dengan mertua dimana Rut berbuat baik dan akrab dengan mertuanya, Naomi. Rut berkata kepada Naomi, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang tidak mengikuti engkau; sebab kemana engkau pergi kesitu jugalah aku pergi…” (Rut 1:16) sebagai tanda kasih dan kesetiaannya yang luar biasa yang harus diteladani. Ini perbuatan terhadap mertua apalagi terhadap ibunya! 5. Berkatilah ibumu “Ada keturunan yang … tidak memberkati ibunya”(Ams 30:11). Siapakah kita ini? Bukankah kita adalah keturunan Abram yang ditugaskan menjadi penyalur berkat “olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej 12:3). Marilah kita memberkati apalagi terhadap orangtua kita sendiri. Rasul Paulus mengingatkan Timotius, “membalas budi orangtua dan nenek mereka karena itulah yang berkenan kepada Allah” (1 Tim 5:4) dan menyatakan “Jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya… orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman” (1 Tim 5:8). Dari sebab itu janganlah pelit terhadap ibu yang telah banyak memberi! |