|
Nabi Yeremia mendapat pernyataan Tuhan bahwa masalah timbul dalam kehidupan karena kebodohan, “sudah menjadi bodoh, mereka tidak menanyakan petunjuk Tuhan” (ay 21a) dan akibatnya “mereka tidak berbahagia dan …….. mereka cerai berai” (ay 21b). Dinyatakan penderitaan yang dihadapi mereka diantaranya kesesakan, penyakit, kepedihan, kehancuran dan kesepian (baca ay 17-20). Apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi segala penderitaan kehidupan? Dinyatakan jika kita hidup sesuai dengan kehendak diri sendiri maka yang diperoleh “tidak bahagia”. Jika kita merindukan kebahagian maka hendaklah kita mengikuti kehendakNya dengan memperhatikan beberapa hal yaitu sbb: 1. Miliki roh yang menyala-nyala. “Kegemparan besar akan datang ….. membuat kota-kota Yehuda menjadi sunyi sepi, menjadi tempat persembunyian serigala-serigala” (ay 22). Musuh datang dan menjadikan kesunyian. Di dalam kesunyian disitu adalah tempat persembunyian serigala-serigala. Jangan ijinkan kesunyian tetapi peliharalah rohmu untuk senantiasa “menyala-nyala dan layanilah Tuhan” (Rom 12:11). Pernyataan Tuhan Yesus lewat perumpamaan lalang diantara gandum, “Tetapi pada waktu semua orang tidur datanglah musuh menaburkan benih lalang di antara gandum” (Mat 13:25). Di saat tidur, di saat sunyi, di saat tidak melayani, di saat roh kita lengah di situ iblis bekerja dan menaburkan benih yang tidak baik. Rasul Paulus sebelum meninggalkan jemaat di Efesus, dia menyatakan: “Aku tahu sesudah aku pergi serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu” (Kisah 20:29) dari sebab itu waspadalah! 2. Miliki kesadaran kehendakNya. “Aku tahu ya Tuhan bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya….” (ay 23). Nabi Yeremia menyadari bahwa manusia tidak berkuasa atau tidak mempunyai hak untuk menentukan jalannya bahkan untuk menentukan langkahnya sendiri. Siapa yang berhak? Pemazmur Daud menyatakan “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang” (Maz 37:23). Penulis Amsal menyatakan “ Hati manusia memikir-mikirkan jalannya tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya” (Ams 16:9). Manusia tidak berkuasa tetapi Tuhan yang berkuasa. Rasul Paulus menegaskan “bahwa kamu bukan milik kamu sendiri sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar (1 Kor 6:19-20). Dari sebab itu hendaklah kita taat dan perlu disadari hati yang taat telah diberikan Tuhan kepada kita (baca Yehz 11:19-20). Ketaatan dikalahkan oleh pencobaan bagi orang yang dikuasai kedagingan dan pencobaan dikalahkan oleh ketaatan bagi orang yang dikuasai Firman. 3. Miliki hati siap menerima didikan. “Hajarlah aku ya Tuhan tetapi dengan selayaknya…….” (ay 24). Penulis Ibrani menyatakan “janganlah anggap enteng didikan Tuhan” (Ib 12:5). Nabi Yeremia menyatakan sikap memohon untuk dididik bahkan dihajar dengan belas kasihan Tuhan. Ini adalah sikap yang harus ada di dalam setiap kehidupan untuk mau dididik menjadi lebih baik. Kenyataan hidup betapa sulitnya mendidik karena mereka tidak mau dididik. Walaupun orang menyatakan didiklah aku tetapi segera pendidikan diberikan apalagi yang tidak sesuai dengan kehendak pribadinya maka pendidik mengalami kesulitan untuk mendidik. Pendidik manusia memiliki keterbatasan dan dapat mengundurkan diri tetapi Tuhan yang tidak terbatas akan tetap mendidik. Dikatakan bahwa Tuhan akan menegur, menghajar dan menyesah (mencambuk) (baca Ib 12:5-6) “supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya” (Ib 12:10). Kehendakmu atau kehendakNya? Kehendakmu menghasilkan tidak bahagia dan kehancuran sedangkan kehendakNya menghasilan penggenapan janji berkatNya (baca Ib 10:36).. |