|
Penulis Ibrani menyatakan hari perhentian yang disediakan Tuhan bagi umatNya. Maksud masuk perhentianNya adalah berhenti, “ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya” (ay 10). Di dalam perjanjian lama dapat diartikan hari Sabat (baca ay 4) dan di saat Israel masuk ke tanah perjanjian Kanaan (baca ay 8). Di jaman masa kini perhentian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan atau kerajaan Surga yang dijanjikanNya. Penulis Ibrani menegaskan “Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku”( ay 1). Janji masuk ke tempat perhentianNya masih berlaku dan hendaklah kita waspada dan jangan ketinggalan. Yang harus diperhatikan yaitu: 1. Miliki iman yang bertumbuh “..tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya”(ay 2).. Iman harus dikaitkan dengan firman, demikian juga sebaliknya. Firman dan iman tidak dapat dipisahkan seperti sebuah mata logam yang mempunya dua sisi. Rasul Paulus menyatakan “Jadi iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh Firman Kristus” (Rom 10:17). Jadi jika pendengaran tentang Firman tidak ditambah bagaimana iman dapat bertambah atau bertumbuh? Kemantapan iman kita sangat tergantung dari pengenalan kita akan Tuhan yaitu lewat FirmanNya. Pemazmur Daud memiliki kemantapan sehingga menyatakan “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu itulah yang menghibur aku” (Maz 23:4). Rasul Paulus menyatakan “Jika Allah dipihak kita siapakah yang dapat melawan kita” (Roma 8:31) 2. Miliki ketaatan hati “Jadi sudah jelas, bahwa ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang….. tidak masuk karena ketidaktaatan mereka”(ay 6). Tidak dapat disangkal karena Firman menyatakan bahwa ada yang akan masuk dan ada yang akan tidak masuk. Ini tergantung daripada ketaatan hati kita dari sebab itu Tuhan berkata “Janganlah keraskan hatimu!” (ay 7). KehendakNya jelas bahwa Tuhan menghendaki agar kita semua masuk ke dalam perhentianNya untuk memberi kelegaan bagi yang letih lesu (baca Mat 11:28) dan kesukaan dalam kerajaanNya. Mintalah kepada Tuhan hati yang taat (baca Yehz 11:19-20) agar kita mampu melakukan kehendakNya dan memperoleh janjiNya (baca Ib 10:36) yaitu berkat, keberhasilan, keberuntungan, sukacita, kebahagiaan dan damai sejahtera.. 3. Miliki semangat introspeksi diri Ay 11 “Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu..” Berusaha berarti melakukan sesuatu dengan semangat, rajin-rajinlah. Penulis Ibrani menyatakan “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; menusuk....memisahkan….sanggup membedakan…” (ay 12). Rasul Paulus menyatakan “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3:16). Firman didengar dengan tujuan untuk mengubah kehidupan dari yang tidak baik menjadi yang berkenan dihadapan Tuhan. Kehendak Tuhan dinyatakan oleh Tuhan Yesus “haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang disurga adalah sempurna” (Mat 5:48). Haruslah kita hidup sesuai FirmanNya, dalam kebenaran untuk dapat bersekutu dengan Tuhan yang sempurna di perhentianNya. Dari sebab itu perhatikanlah hidupmu! |