Skip to content
 
Menuju ke kehidupan kekal

Menuju ke kehidupan kekal. Firman: Matius 19:16-26

Injil Matius mencatat kisah seorang muda yang kaya yang bertemu dengan Tuhan dan bertanya “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal” (ay 16). Tuhan menjawab “Hanya Satu yang baik” (ay 17). Perhatikan pernyataan “Satu” yang menyatakan bahwa hanya Tuhan yang baik. Tidak ada perbuatan baik yang dilakukan manusia yang dapat menyelamatkan. Rasul Paulus menyatakan bahwa kita “telah dibenarkan dengan cuma-cuma…. karena iman dalam darahNya” (Rom 3:24-25) bukan karena perbuatan kita tetapi kasih karuniaNya.

Hanya Tuhan yang baik. Jika Tuhan ada di dalam hati kita maka perbuatan baik orang beriman akan menjadi nampak. Rasul Yakobus menyatakan “jika iman itu tidak disertai perbuatan maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:17). Apa yang seharusnya ada di dalam kehidupan orang beriman untuk membawanya ke kehidupan kekal?

1. Hati taat akan FirmanNya.
“Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah” (ay 17). Yang dituruti adalah perintah Tuhan yaitu FirmanNya. Dibutuhkan hati untuk taat dan juga dibutuhkan hikmat agar kita mengetahui segala perintahNya/ kehendakNya. Rasul Paulus menyatakan “berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2). (Engl: by renewing of your mind). Pikiran kita perlu diisi oleh Firman Tuhan dengan membaca dan merenungkan. Tuhan Yesus menyatakan “yang masuk ke dalam Kerajaan Surga yang melakukan kehendak Bapa” (Mat 7:21).

2. Hati kasih yang mengasihi.
“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin” (ay 21). Pernyataan “hendak sempurna” merupakan tuntutan karena kita diwajibkan, “haruslah kamu sempurna seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Mat 5:48). Sempurna di dalam segala hal termasuk kasih yang sempurna kepada Tuhan. Tuhan tidak menghendaki kita mendua hati, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat 6:24). KehendakNya agar kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan diungkapkan dengan kepedulian terhadap sesame dengan hati yang berbelas kasihan. Tuhan Yesus menyatakan tentang penghakiman terakhir, bagi orang-orang yang melakukan perbuatan terhadap orang-orang yang lapar, harus, asing, telanjang, sakit, di dalam penjara, Ia berkata “terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Mat 25: 34).

3. Hati berserah menjadi pengikut
“datanglah kemari dan ikutlah Aku” (ay 21). Rasul Paulus menyatakan “persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (Rom 12:1). Mempersembahkan berarti menyerahkan diri secara total kepada Tuhan untuk dipakai oleh Tuhan dengan mengikuti segala yang menjadi kehendakNya. Seperti Nabi Yesaya berkata “Ini aku, utuslah aku!” (Yes 6:8). Mengikuti Tuhan berarti harus berani meninggalkan segala sesuatu dan mengutamakan Tuhan. Injil Lukas mencatat, “Aku akan mengikuti Engkau tetapi izinkan aku pamitan dahulu dengan keluargaku. Tetapi Yesus berkata: Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh kebelakang tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk 9:61-62). Tuhan Yesus menyatakan “Dan setiap orang yang karena namaKu meninggalkan rumahnya….. atau ladangnya akan menerima kembali serratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Mat 19: 29).

 

 

Polls

Website baru ini...
 

Language Selection