|
Kisah nyata dimana Paulus dan Silas ditangkap di Filipi atas kehendak para pembesar kota dan dilemparkan ke dalam penjara. Dinyatakan bahwa “kepala penjara memasukan mereka mereka keruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dengan pasungan yang kuat” (:24). Firman menyatakan “…Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah….. terjadilah gempa bumi yang hebat…..seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua” (ay 25-26). Mujijat terjadi di dalam kehidupan murid-murid Tuhan tetapi masalah timbul bagi kepala penjara sehingga di dalam kepanikan, ketakutan dan kegagalan yang dihadapi, “ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri” (ay 27). Rasul Paulus mencegahnya, “Jangan celakan dirimu…” (ay 28). Apa yang kemudian dilakukan oleh kepala penjara yang bermasalah? 1. Sikap merendahkan diri dan mau bertanya “gemetar tersungkurlah …..Tuan-tuan apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Pernyataan “supaya aku selamat” memberikan dua kemungkinan yaitu selamat dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai kepala penjara yang gagal menjaga para tahanan atau selamat dalam arti keselamatan yang diberitakan para murid seperti yang diketahui penduduk Filipi, “orang-orang ini adalah hamba Allah yang Maha tinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan” (Kis 16:17). Kepala penjara dalam perikop ini dengan gemetar dan tersungkur di depan Paulus dan Silas yang dinyatakan sebagai hamba Tuhan dan ia bertanya meminta nasehat kepada mereka. 2. Sikap mau mendengarkan kebenaran. “Percayalah ….. Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya” (ay 31-32). Lokasi pemberitaan Firman diperkirakan di dalam penjara bukan di rumah kepala penjara (baca ay 34), berarti kepala penjara memanggil keluarganya ke penjara untuk mendengarkan pemberitaan Firman. Ada kemiripan dengan Kornelius sewaktu mengundang Petrus kerumahnya, “ia memanggil sanak saudaranya dan sahabat-sahabatnya berkumpul” (Kis 10:24) dengan tujuan agar mereka berkesempatan mendengarkan Firman Tuhan. Rasul Paulus menyatakan “iman itu timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh Firman Kristus” (Rom 10:17). Mendengarkan adalah faktor penting yang menjadikan orang beriman atau menjadi percaya. JanjiNya “engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (ay 31). 3. Sikap menyadari perbuatannya dan bertobat. “kepala penjara membawa mereka dan membasuh bilur mereka …..ia dan keluargabta memberi diri dibaptis” (ay 33). Ditubuh para murid terdapat bilur-bilur akibat “berkali-kali didera” (ay 22). Oleh siapa? Jelas bukan oleh pembesar-pembesar kota tetapi mereka “menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka” (ay 22). Kemungkinan oleh petugas-petugas penjara termasuk kepala penjara! Kepala penjara menyadari akan perbuatannya terhadap para hamba Tuhan dan ia membawa dan membasuh bilur-bilur mereka baru kemudian ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. “Sadarlah dan bertobatlah!” (Kis 3:19) adalah seruan Rasul Petrus. 4. Sikap bersyukur terhadap pemberita Firman. “Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira…telah menjadi percaya kepada Allah” (ay 34). Sangat bergembira karena telah menjadi percaya dan ia menyadari karena pemberita Firman yang telah memberitakan Firman. Kepala penjara membawa mereka kerumahnya dan menghidangkan makanan sebagai ucapan terima kasihnya. Rasul Paulus mengingatkan jemaat agar “kamu menghormati mereka … yang memimpin kamu dalam Tuhan … menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka” (1 Tes 5:12-13). |