
noscript
tags. Include a link to bypass the detection if you wish.
Christmas Short movie - BITTERSWEET
from Flinklupe|Wenny on Vimeo.
Firman: 2 Timotius 2:19-26
Surat Rasul Paulus kepada seorang pemuda yang bernama Timotius, katanya “ Kamu tahu kesetiaannya telah teruji dan bahwa ia telah menolong aku dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapanya” (Fil 2:22). Kata “kesetiaannya” janganlah diartikan kebersamaan atau secara jasmaniah selalu ada bersama dengan Paulus tetapi juga sikap Timotius yang berusaha menyenangkan hati gurunya dengan meletakkan diri sebagai anak rohani yang mau mentaati bapanya. Rasul Paulus dalam perikop ini memberi nasihat agar Timotius berhati-hati dalam menunaikan tugas mulia dari Tuhan. Beberapa nasihat yang disampaikan yaitu:
1. Tuhan mengenal siapakah kita.
“Tuhan mengenal siapakah kepunyaanNya” (ay 19). Kata “kepunyaanNya” adalah pengakuan Tuhan jika kita ini adalah milikNya bahkan dikatakan “harta kesayanganKu sendiri” (Kel 19:5) dan Tuhan mengenal kita dengan benar. Siapakah kita dan apakah motivasi kita! Tuhan Yesus menyatakan “ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya” (Yoh 10:3) dan menyatakan “Dan kamu rambut kepalamupun terhitung semuanya” (Mat 10:30). Lebih jauh daripada itu kataNya kepada Samuel “manusia melihat apa yang di depan mata tetapi Tuhan melihat hati” (1 Sam 16:7). Ada pepatah berkata “sedalam-dalamnya lautan bisa diukur tetapi hati orang siapa tahu” tetapi Tuhan menyatakan Ia mengetahui dan mengenal hati kita. Tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan, Dia Mahatahu! Pemazmur berkata, “Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku” (Maz 139:1).
2. Tuhan menuntut kekudusan kita.
“Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan” (ay 19). Setiap orang tanpa perkecualian yang menjadi bagian dalam Kristus harus “menyucikan dirinya” (ay 21) atau “dikuduskan” (ay 21) – dipisahkan dari dunia, dikhususkan bagi Tuhan! Penulis Ibrani menyatakan “tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (Ib 12:14). Tanpa kekudusan kita tidak mampu melihat, tidak mampu bertemu, tidak mampu bersekutu dan yang jelas tidak mampu mengetahui kehendakNya maka segala sesuatu yang dilakukan akan sia-sia. Tuhan Yesus menyatakan “Pada hari akhir banyak orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat … mengusir setan…mengadakan banyak mujijat demi namaMu juga….” (Mat 7:22). Yang “masuk ke dalam Kerajaan Sorga …dia yang melakukan kehendak BapaKu di sorga” (Mat 7:21). Dari sebab itu Rasul Paulus menasihati Timotius, “jauhilah nafsu orang muda … hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak…. menimbulkan pertengkaran” (ay 23-24) disamping “meninggalkan kejahatan” (ay 19) dan hidup berkenan padaNya.
3. Tuhan menentukan panggilan kita.
“yang pertama (perabot dari emas dan perak) dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir (perabot dari kayu dan tanah) dipakai untuk maksud yang kurang mulia” (ay 20). Apakah kualitas kehidupan kerohanian kita? Emas dan perak atau kayu dan tanah? Pilihan ada di tangan kita dan Tuhan kemudian menentukan panggilan kita sesuai dengan pilihan kita. Dijelaskan “jika seorang menyucikan dirinya…. ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia” (ay 21) dari sebab itu jika tidak maka kita akan dipakai untuk pekerjaan kurang mulia. Menurut pengertian tabernakle ada 3 pembagian tugas yaitu pekerja halaman, pekerja ruang kudus dan pekerja ruang Maha Kudus dan penempatannya berdasarkan tingkat kerohanian kita. Tepatnya makin rohani makin besarlah tanggung jawab, jabatan dan panggilan Tuhan dan makin besarlah berkatNya! KehendakNya, kita dipanggil untuk tugas mulia “menuntun orang yang suka melawan…..memberi kesempatan kepada mereka bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran” (ay 25). Mampukah kita? Tuhan yang mengetahui kemampuan kita dari sebab itu Tuhan yang menentukan sesuai kemampuan kita.
