
noscript
tags. Include a link to bypass the detection if you wish.
Firman: 2 Korintus 9: 6-15
Rasul Paulus berbicara kepada jemaat di Korintus mengenai memberi. Betapa penting bagi jemaat untuk memberi. Pemberian yang dimaksud bukan pemberian sehari-hari tetapi pemberian khusus karena ada kebutuhan. Orang-orang kudus di Yerusalem di dalam penderitaan dan butuh pertolongan. Rasul Paulus mengingatkan jemaat, “Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah”(ay 12). Pemberian tidak hanya memenuhi kebutuhan tetapi juga melimpahkan ucapan syukur!. Yang perlu diperhatikan:
1. Pemberian adalah penaburan benih
“Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga”( ay 6). Ini adalah hukum alam dan yang nyata apa yang kita lakukan tidak pernah sia-sia, selalu ada hasilnya dan sesuai dengan sejauh mana kita melakukannya. Sehubungan dengan jumlah/kuantitas, Tuhan Yesus memberikan pengertian sewaktu ada seorang janda miskin yang mempersembahkan 2 peser di Bait Allah. Tuhan berkata ”Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang” (Luk 21:3). Adapun alasan yang diberikan “janda ini memberi dari kekurangannya bahkan memberi seluruh nafkahnya” (Luk 21:4). Yang perlu diperhatikan ialah motivasi dan pengorbanan, seperti tertulis “menurut kemampuan, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak…. untuk mengambil bagian dalam pelayanan….” (2 Kor 8:3-4). Banyak kebutuhan didunia ini dan dibutuhkan pemberian, bagi yang lapar, haus, asing, telanjang, sakit, dipenjara (baca Mat 25:31-46).
2. Pemberian harus dengan hati
“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan” (ay 7). Perhatikan “Ia yang menyediakan benih bagi penabur..” (ay 10). Benih adalah milik Tuhan dan telah diberikan kepada kita untuk ditaburkan, tetapi Tuhan menghargai kehendak bebas kita. Pilihan ada pada kita, memberi atau tidak memberi, dan jangan merasa dipaksa! Yang akan Tuhan lakukan “kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati……” (ay 11) agar dengan kemurahan hati yang merupakan buah Roh akan memampukan kita untuk memberi “membagikan segala sesuatu” (ay 13). Rasul Paulus menegaskan, “sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (ay 7) yang berarti makin memberi makin dikasihi Tuhan!. Dunia berkata bagaimana kita bisa kaya, bukankah peribahasa mengatakan hemat pangkal kaya. Firman berkata “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. (Ams 11:24-25).
3. Pemberian memberikan berkat
“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (ay 8). Allah sanggup! Kita yang tidak sanggup! Dari sebab itu dibutuhkan kerja sama, “sebab diluar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5). KehendakNya adalah melimpahkan berkatNya, “Dalam hal ini BapaKu dipermuliakan yaitu jika kamu berbuah banyak” (Yoh 15:8). Kita telah dipanggil sebagai penyalur berkatNya (baca Kej 12:3). Apa yang harus terjadi? Diberkati untuk memberkati atau memberkati untuk diberkati? Alkitab dengan tegas berkata “Ia yang menyediakan benih bagi penabur…” (ay 10). Tuhan menyediakan terlebih dahulu! Ini sebagai pernyataan bahwa kita diberkati untuk memberkati dan disaat menerima berkat kita diberi kuasa untuk menikmatinya, “dikarunai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya….” (Pkh 5: 18). “Ada sesuatu kemalangan... yang sangat menekan … tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya…” (Pkh 6:1-2).
